Wednesday, September 22, 2010

Semburat

Lampu-lampu jalan
Berkedip-kedip
seakan memberi isyarat

hari sudah malam
cepatlah pulang


langkahku tertahan
oleh Semburat wajah
yang telah lama tersimpan

Wajah dengan bola mata berbinar
Dan lesung pipit di kedua pipinya


setiap kucoba untuk melupakan
ia selalu datang
setiap kucoba mendekati
ia pergi berlari


Aku milikmu
Tapi bukan untukmu


Begitu selalu ucapanmu
sambil terisak tertahan
Di bawah lampu-lampu jalan
yang temaram

Aku tak yakin
Apakah itu ucapanmu
Atau keyakinanmu

Kau selalu skeptis
Ucapnya..


Sambil melemparkan sapu tangannya ke wajahku

Kau selau tidak pernah mengerti
Bagaimana perasaan wanita


Bantahnya
Sambil menatapku dengan bola matanya yang basah oleh air mata

Kau tidak akan pernah berubah
Tidak akan pernah


Itulah ucapan terakhirnya
Yang kusimpan dalam inbox sms-ku
Ketika terakhir kupergoki ia berjalan dengan seorang laki-laki
Dan aku menghardiknya dengan keras

Kututup mukaku dengan kedua tanganku
Mencoba mengerti dan mengerti
Namun hanya kehampaan yang menyeruak
dan semburat wajahnya yang ayu


Tuhan
Kemana Engkau selama ini
Aku merindukan-Mu


Ucapku terisak
Sambil menutup albumku

2 comments:

inge / cyber dreamer said...

sepertinya sedang merindu dan mengenanng seseorang ya ^^

suka tulisan ini >.<

mymonas said...

hahaha...
nggak kok..
cuma pingin nulis aja
ceritanya gak persis seperti itu